0817 0391 8797 0817 0391 8797 jlanjlancom 5EDF8F74

Sejarah Tanah Lot Bali

Diceritakan dalam Dwijendratattwa pada abad 15, dikutip dari Buku "Pura Luhur Tanah Lot di Sagara Kidul", penulis Drs. Ngurah Oka Supartha:

Pada masa kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan agama Hindu dengan nama Darma Yatra. Di Lombok beliau disebut dengan "Tuan Semeru" atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.

Pada waktu beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya pada abad ke 15, yang berkuasa saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau mengajarkan dan menyebarkan ajaran Dharma sampai ke pelosok-pelosok pulau Bali dan banyak membangun tempat-tempat suci untuk meningkatkan kesadaran spritual dan memperdalam ajaran-ajaran Hindu.

Disebutkan pada saat beliau menjalankan "Dharma Yatra" di Rambut Siwi, Beliau melihat sinar suci dari arah Tenggara dan mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air.  Tidak jauh dari sumber mata air tersbut, beliau menemukan tempat yang sangat indah yang disebut "GILI BEO" (Gili artinya batu karang, Beo artinya burung) jadi itu adalah sebuah batu karang besar berbentuk beo. Di tempat inilah membangun tempat untuk bermeditasi dan melakukan pemujaan kepada Dewa Penguasa Laut. Beliau mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk setempat, yaitu yang berada di Desa Beraban di mana desa tersebut di kepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut Bendesa Beraban Sakti.

Pada saat itu penduduk Desa Beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran Dang Hyang Niratha yaitu tentang agama Hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. Begitu pula sebagian kecil pengikut Bendesa Beraban mulai meninggalkannya dan dia menyalahkan Dang Hyang Nirartha atas hal tersebut. Kemudian dia mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia dan memimpin mereka untuk mengusir Dang hyang Nirartha dari tempat tersebut. Dengan kekuatan spritual yang dimiliki Dang Hyang Nirartha, beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban dengan memindahkan batukarang besar tersebut tempat beliau bermeditasi ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut. Kemudian Beliau memberi nama "Tengah Lod" yang berarti Tanah Tengah Lautan.

Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spritual dari Dang Hyang Nirartha dan dia mulai mempelajari ajaran-ajaran yang diajarkan oleh orang suci tersebut hingga menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran itu kepada para penduduknya untuk bergabung mengikuti kepercayaan tersebut. Sebelum pergi, Beliau memberikan sebilah keris suci dan sakti yang dikenal dengan "KI BARU GAJAH" kepada Bendesa Baraba. Saat ini keris tersebut diistanakan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan oleh segenap masyarakt dan diupacarai setiap hari Raya Kuningan dengan berjalan kaki 11 KM pulang pergi menuju Pura Luhur Pakendungan yang berlokasi 300 meter dari Pura Luhur Tanah Lot setiap 210 hari sekali yakni pada hari "Buda Wage Langkir" sesuai penanggalan kalender Bali.

Tidak ada komentar untuk artikel ini



Leave a comment

Ada yang bisa dibantu kak?

Kami siap membantu kakak, silahkan chat kami!